Tampilkan postingan dengan label Hutan terbakar. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label Hutan terbakar. Tampilkan semua postingan

Senin, 16 Maret 2009

Dunia Kehilangan 70 Juta Hektar Hutan dalam 15 Tahun

ROMA, PK -- Dunia kehilangan 70 juta hektar hutan dalam 15 tahun antara 1990-2005. Demikian laporan Organisasi Pertanian dan Pangan PBB (FAO) yang disiarkan, Senin (16/3/2009).
Menurut laporan berjudul "State of the World's Forest", kebanyakan penggundulan hutan terjadi di Amerika Selatan, Afrika, dan Karibia. Faktor pemicu pengurangan luas hutan terutama didorong tingginya harga pangan dan bahan bakar akan mendorong kegiatan pembersihan hutan bagi produksi hewan ternak dan lahan pertanian untuk menghasilkan makanan, sumber nafkah, dan bahan bakar bio.
Dari 1990 sampai 2005, Amerika Latin kehilangan 64 juta hektar hutan. Luasan ini mewakili sebanyak tujuh persen dari seluruh jumlah hutan di dunia, kata laporan tersebut.
Afrika kehilangan delapan juta hektar hutan dari 1990 sampai 2005. Di Afrika, kehilangan hutan tampaknya akan berlanjut dengan kebijakan saat ini. Laporan tersebut menegaskan bahwa kemarau yang kian sering terjadi, turunnya pasokan air, dan banjir akan merusak upaya guna mengelola hutan Afrika secara berkelanjutan.
"Di Asia dan Pasifik, tempat lebih dari separuh penduduk dunia dan sebagian negara yang berpenduduk paling padat di dunia, tuntutan akan kayu dan produk kayu diperkirakan terus naik sejalan dengan pertumbuhan penduduk dan penghasilan," kata laporan itu.
FAO menyatakan langkah penggurunan di negara berkembang tampaknya tak akan turun dalam waktu dekat. (kompas.com)

Minggu, 19 Oktober 2008

Di TTS, 450 Hektar Hutan Lindung Terbakar

SOE, PK--Kawasan Hutan Lindung Koa seluas 450 hektar di Desa Mio, Kecamatan Amanuban Selatan, Kabupaten Timor Tengah Selatan (TTS) terbakar sejak Jumat (10/10/2008) hingga Minggu (12/10/2008). Belum diketahui penyebab kebakaran kawasan hutan lindung tersebut.
Kepala Dinas Kehutanan dan Perkebunan Kabupaten TTS, Drs. Urias Sanam, yang dihubungi Pos Kupang di ruang kerjanya, Kamis (16/10/2008), mengatakan, 450 hektar kawasan hutan lindung yang terbakar merupakan calon lokasi proyek gerakan nasional rehabilitasi hutan dan lahan (Gerhan). Lima hektar berada pada lokasi reboisasi kayu merah tahun 2006 dan 45 hektar pada areal semak belukar, perdu dan bambu.
Sanam yang didampingi Kasubdin Pengelolaan dan Produksi Hutan, Pieter Fay, S.T, menjelaskan, api diduga berasal dari cekdam di Besipae, Jumat (10/10/2008) sekitar pukul 11.00 Wita. Melihat api tersebut, kata Sanam, warga setempat memadamkan kobaran api di hutan tersebut. Upaya itu berhasil memadamkan kobaran api.
Namun sekitar pukul 13.00 Wita, lanjut Sanam, kobaran api muncul lagi di salah satu lokasi kawasan hutan lindung tersebut. Akibat tiupan angin sehingga kobaran api tidak terkendali dan membias menghanguskan kawasan hutan lindung tersebut. Amukan si jago merah baru dapat dipadamkan warga setempat, Minggu (12/10/2008) sekitar pukul 15.00 Wita.
Akibat terbakar, kata Sanam, keanekaragam hayati di kawasan hutan lindung itu dipastikan punah. Tak hanya itu, lanjutnya, habitat marga satwa juga terganggu. Begitu pula dengan kesuburan areal yang terbakar akan berkurang.
Tentang korban jiwa saat kebakaran itu, Sanam mengatakan, hasil pantuan Dishutbun TTS tidak menemukan adanya korban jiwa. Pasalnya, kobaran api tidak sampai ke permukiman warga. "Posisi sekarang api sudah padam," ujarnya.
Mengenai tindakan Dishutbun TTS terhadap kawasan hutan yang terbakar itu, Sanam mengatakan, kawasan yang terbakar akan segera direhabiltasi. Proyek Gerhan 2008 ini, lanjutnya, salah satu lokasinya di Kawasan Hutan Lindung Koa seluas 400 hektar.
Ditanya keberhasilan penamanan anakan di lahan tersebut karena bekas terbakar, Sanam mengatakan, persoalan itu tidak masalah. Selama anakan dan pemeliharaannya baik, tanaman akan bertahan hidup hingga bertumbuh menjadi besar. (aly)