.
DI kamar sebelah kiri dari arah pintu masuk ia dibaringkan. Sendirian ia di atas dipan berukuran sedang itu. Sekujur tubuhnya diselimuti kain batik. Rambutnya yang ikal masih tergerai. Tiada hentinya ciuman, peluk dan elusan diberikan. Sambil berlutut di sampingnya, sahabat-sahabatnya yang menyayanginya itu seakan tak percaya. Teman sepermainan kini telah tiada. Tubuhnya tak lagi bergerak. Denyut nafas pertanda kehidupan tak lagi terlihat.
Delfi Bengu, siswi kelas VI SDN 1 Manutapen, Kota Kupang tewas tenggelam. Ombak deras di perairan Pasir Panjang, Kupang telah merenggut kehidupannya, Sabtu (27/9/2008) sekitar pukul 13.00 Wita.
Berbeda dengan Maria Riwu Djami, sepupunya yang sedang berenang bersamanya, putri ketiga pasangan Karel Bengu-Rina Bengu-Rohi itu tak mampu diselamatkan warga Kelurahan Pasir Panjang yang datang memberikan bantuan setelah mendengar teriak meminta tolong dari arah laut.
Kini Delfi telah tiada. Padahal, beberapa menit sebelum kepulangannya ke alam baka, ia berteriak kegirangan. Berlari-lari di pasir putih sambil bernyanyi. Bahagianya tiada dua. Betapa tidak. Siang kemarin, seluruh anggota keluarganya piknik bersama. Syukuran atas rezeki Yang Maha Kuasa berikan. Dua minggu lalu, orangtuanya berhasil membeli sebuah truk baru.
"Kami dua sementara berenang. Tiba-tiba tangan saya terlepas dari binen (ban dalam mobil--Red) yang kami pake untuk berenang karena ombak deras sekali. Lalu dia juga ikut jatuh. Saya tarik tangan dan rambutnya ke atas sampai berhasil. Dia kembali pegang binen dan setelah itu arus bawa dia makin jauh," tutur Maria yang terus menangisi kepergian sepupunya.
Di rumah duka di RT 07 RW 02 Kelurahan Manutapen, kaum kerabat dan tetangga telah berkumpul. Mereka sabar menanti datangnya jenazah Delfi setelah kabar duka itu diterima tidak lama setelah peristiwa naas itu terjadi. Sekitar pukul 15.00 Wita, barulah jenazah tiba dengan sebuah ambulans yang dipandu mobil patroli Polsekta Kelapa Lima dan diarak kendaraan beroda dua.
Saat jenazah ditandu anggota polisi menuju rumah duka, tangis pun pecah. Puluhan orang yang berjejer di jalan menurun itu tak kuasa menahan tangis. Mereka seakan tak percaya akan fakta di depan mata mereka. Saat ditemui, seorang bapak yang sedang menghapus air matanya mengaku, Delfi anak periang dan murah hati.
Sementara di ruang tengah rumah duka, di samping kamar Delfi dibaringkan, ayah dan ibunya menangis histeris di antara kerumunan kaum keluarga. Rina, si ibu yang malang itu tak henti- hentinya berteriak menyebut nama anaknya. Sambil memukul dirinya, ia terus meratapi kepergian buah hatinya. Sempat terdengar ia mengumpat dirinya. Juga bukan sekali dua ia berteriak menyesali kepergian Delfi seraya memohon ampun dari anaknya.
"Mengapa Delfi yang harus pergi dan bukan mama? Mama tidak mau. Mama tidak mau. Bapa dan mama minta ampun. Minta ampun Delfi..." tangis Ny Rina.
Di hadapannya, suaminya duduk terpekur memeluk putra tunggalnya. Ketiga putrinya yang lain bersila di dekatnya. Sesekali Karel Bengu menarik-narik rambutnya. Mungkin sedang menyesali nasib buruknya. Bisa jadi ia sedang marah pada situasi yang ia alami. Satu yang pasti, ia sedemikian kehilangan.
Di tengah suasana duka itu, David Bengu, paman korban berdoa pasrah. Seakan menemukan Tuhannya di tengah nyanyian duka, ia memasrahkan Delfi ke dalam tangan Pencipta. "Dia yang memberi, kalau Dia juga yang mau mengambilnya, apa daya kami. Kami keluarga pasrahkan anak kami ke dalam kuasaNya," ungkap David Bengu ketika diajak bicara Pos Kupang. (yos sudarso)
Tampilkan postingan dengan label Tenggelam. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label Tenggelam. Tampilkan semua postingan
Minggu, 28 September 2008
Pantai Pasir Panjang 'Makan Korban'
KUPANG, PK---Naas menimpa Delfi Bengu (12). Delfi tewas tenggelam setelah terbawa arus di perairan Pasir Panjang, tepatnya di belakang Taman Ria, Jalan Timor Raya, Kota Kupang, Sabtu (27/9/2008) pukul 13.00 Wita. Kakak sepupu korban, Maria Riwu Djami (15), selamat setelah berhasil berenang ke bibir pantai.
Tenggelamnya Delfi bermula ketika korban bersama keluarganya piknik bersama sebagai syukuran setelah orangtua korban, Karel Bengu dan Rina Bengu Rihi, warga RT 07/RW02 Kelurahan, Manutapen, Kecamatan Alak, Kota Kupang membeli sebuah truk baru. Piknik diikuti puluhan orang dari keluarga Karel Bengu.
Tiba di tempat kejadian perkara (TKP), sejumlah anggota keluarga masuk laut untuk mandi. Delfi juga ikut menceburkan diri ke laut. Menggunakan ban dalam mobil (binen), Delfi dan Maria Riwu berenang menikmati air laut. Keduanya mencoba masuk lebih dalam. Saat kejadian air laut surut hingga 100 meter dari bibir pantai.
Maria Riwu, kakak sepupu korban yang selamat kepada Pos Kupang di rumah duka di Kelurahan Manutapen, Sabtu (27/9/2008) pukul 15.00 Wita, mengatakan, bersama korban mereka menikmati laut dengan berpegangan pada ban dalam mobil itu. "Kami sempat naik ke atas ban dalam mobil yang dibawa dari rumah," kata Maria.
Ketika asyik berenang menggunakan ban itu, tutur Maria, tiba-tiba datang ombak besar. Tak kuat melawan ombak, keduanya lepas dari ban. Delfi, kata Maria, ikut tercebur ke dalam laut.
Maria mengaku sempat berusaha menyelamatkan Defli dengan mengangkat korban ke atas ban. Bahkan dirinya kembali lepas dari ban dan tercebur lagi ke dalam laut akibat tekanan yang begitu berat ketika mengangkat badan adiknya ke atas ban mobil. "Pada saat saya muncul kembali ke permukaan laut, saya lihat Delfi dengan ban-nya sudah jauh terbawa ombak. Karena itu saya berenang ke pantai untuk minta tolong," kata Maria.
David Bengu, salah seorang anggota keluarga korban kepada Pos Kupang menjelaskan, keberadaan korban bersamanya orangtuanya Karel Bengu dan Rina Bengu, serta puluhan anggota keluarganya di Pantai Pasir Panjang, kemarin, untuk melakukan syukuran. Syukuran ini digelar karena Karel dan Rina membeli sebuah truk baru dua pekan lalu.
"Sebelum ke Pantai Pasir Panjang kami sempat melakukan doa bersama di rumah orangtua korban. Setelah selesai berdoa baru ke Pasir Panjang. Kami kaget bahwa Delfi tenggelam," kata David Bengu. (ben/dar)
Selasa, 04 Maret 2008
Warga TTS tewas tenggelam
KUPANG, PK -- Oktovianus Kapnani (28), warga Oenlasi, Desa Nunleu, Kecamatan Amanatun Selatan, Kabupaten Timor Tengah Selatan (TTS), tewas tenggelam saat mandi di Pantai Pasir Panjang, Jumat (29/2/2008) pukul 16.00 Wita.
Menurut Yafet Tefa, salah seorang anggota keluarga korban kepada Pos Kupang di IRD RSU Kupang, menjelaskan, pada Kamis (28/2/2008) malam, korban pulang dari kampung halamannya di TTS dan tidur di rumah Joel Tampani, ipar korban di belakang bengkel Toyota.
Menurut Joel, yang dikutip Yafet Tefa, pada Jumat siang, korban sempat pamit bersama Yance Tampani dan Yatri Misa untuk pergi ke pinggir pantai mencari kayu bakar. Ketika Yatri Misa dan Yance Tampani pergi mencari kayu di pinggir pantai, korban malah pergi mandi di laut. Saat mandi, korban sempat naik ke atas sebuah perahu milik nelayan di Pasir Panjang. Dari atas perahu, Yatri Misa dan Yance Tefa sempat melihat korban melompat dari atas perahu dengan posisi kepala ke bawah.
Setelah menunggu beberapa lama, korban tidak muncul ke permukaan air, sehingga Yatri Misa dan Yance Tefa berteriak minta tolong agar warga datang memberikan pertolongan kepada Oktovianus Kapnani. Sejumlah warga datang ke tempat kejadian perkara (TKP) untuk memberikan pertolongan. Setelah beberapa warga menyelam, warga mendapatkan korban yang mengenakan celana jeans warna biru panjang tanpa baju sudah tidak bernyawa lagi.
Saat itu, warga langsung membawa jenazah korban ke IRD RSU Kupang. Sementara Yatri Misa dan Yance Tefa kembali ke rumah untuk memberitahukan kematian korban kepada Joel Tampani, ipar korban. Selama berada di Kupang, korban menekuni usaha menjual jagung di Jalan Nangka, Kelurahan Oeba. Selama ini, korban kos di rumah milik Yulius Ratuwalu bersama adik korban, Semri Kapnani.
Kasat Reskrim Polresta Kupang, AKP Sastra Budy, kepada wartawan di Mapolresta Kupang, Jumat (29/2/2008), mengatakan, aparat kepolisian masih menyelidiki kematian korban. "Kita belum tahu motif kematian korban karena kita masih melakukan penyelidikan," kata Sastra. (den/ben)
Menurut Yafet Tefa, salah seorang anggota keluarga korban kepada Pos Kupang di IRD RSU Kupang, menjelaskan, pada Kamis (28/2/2008) malam, korban pulang dari kampung halamannya di TTS dan tidur di rumah Joel Tampani, ipar korban di belakang bengkel Toyota.
Menurut Joel, yang dikutip Yafet Tefa, pada Jumat siang, korban sempat pamit bersama Yance Tampani dan Yatri Misa untuk pergi ke pinggir pantai mencari kayu bakar. Ketika Yatri Misa dan Yance Tampani pergi mencari kayu di pinggir pantai, korban malah pergi mandi di laut. Saat mandi, korban sempat naik ke atas sebuah perahu milik nelayan di Pasir Panjang. Dari atas perahu, Yatri Misa dan Yance Tefa sempat melihat korban melompat dari atas perahu dengan posisi kepala ke bawah.
Setelah menunggu beberapa lama, korban tidak muncul ke permukaan air, sehingga Yatri Misa dan Yance Tefa berteriak minta tolong agar warga datang memberikan pertolongan kepada Oktovianus Kapnani. Sejumlah warga datang ke tempat kejadian perkara (TKP) untuk memberikan pertolongan. Setelah beberapa warga menyelam, warga mendapatkan korban yang mengenakan celana jeans warna biru panjang tanpa baju sudah tidak bernyawa lagi.
Saat itu, warga langsung membawa jenazah korban ke IRD RSU Kupang. Sementara Yatri Misa dan Yance Tefa kembali ke rumah untuk memberitahukan kematian korban kepada Joel Tampani, ipar korban. Selama berada di Kupang, korban menekuni usaha menjual jagung di Jalan Nangka, Kelurahan Oeba. Selama ini, korban kos di rumah milik Yulius Ratuwalu bersama adik korban, Semri Kapnani.
Kasat Reskrim Polresta Kupang, AKP Sastra Budy, kepada wartawan di Mapolresta Kupang, Jumat (29/2/2008), mengatakan, aparat kepolisian masih menyelidiki kematian korban. "Kita belum tahu motif kematian korban karena kita masih melakukan penyelidikan," kata Sastra. (den/ben)
Langganan:
Postingan (Atom)