Minggu, 10 Agustus 2008

Dari Forum Silaturahmi Media Massa Anti Narkoba: Perlu Komitmen Bersama (3)



Oleh: Kanis Jehola

BUKAN hanya jidat Karni Ilyas yang mengkerut. Juga bukan hanya anggota Komisi I DPR RI, Dr. H.A Effendy Choirie, M.AG, MH yang cemas. Tapi yang juga gelisah akibat pesatnya perkembangan kasus penyalahgunaan narkoba ini adalah para pengusaha atau pimpinan perusahaan. Sebab secara ekonomi, meningkatnya jumlah kasus ini mengancam keselamatan dan produktivitas perusahaan. Karyawan yang terlibat kasus ini tentu tidak akan memberikan kontribusi yang positif bagi kemajuan perusahaan.
"Bagi perusahaan tentu rugi kalau karyawannya tersangkut narkoba. Karena biaya yang dikeluarkan untuk menjadi karyawan trampil itu mahal. Waktu masuk kerja kan mereka belum terampil. Mereka baru terampil setelah diberi pelatihan di perusahaan," kata Utama Karjo, Ketua Komite Tetap Kebijakan Publik KADIN Jakarta Pusat, saat membawakan materi: Informasi P4GN sebagai orientasi program CSR dalam meningkatkan dampak produktivitas perusahaan."
Kecemasan dan kegelisahan mereka memang sangat beralasan. Bayangkan pertumbuhan kasus ini mengalami kenaikan 48 persen setiap tahun, dengan total uang yang dihabiskan untuk membelanjakan barang haram ini mencapai sekitar puluhan hingga ratusan triliun setahun. Bahkan saat ini, kasus narkoba ini tidak hanya menjadi masalah masyarakat yang tinggal di daerah perkotaan. Tapi sudah menyebar dan merambah sampai ke seluruh pelosok kabupaten/kota di Indonesia, bahkan sampai ke rumah tangga.
Effendy Choirie yang tampil membawakan materi: "Integralisasi sistem penyiaran/pemberitaan" mensinyalir, pesatnya perkembangan kasus narkoba di Indonesia ini terjadi karena perhatian pemerintah dan instrumen lain terhadap bahaya narkoba terlambat.
Effendy Choirie mengakui, institusi BNN memang sudah ada, tapi penanganan kasus narkoba ini di daerah yang tidak serius. Kapus Cegah Lakhar BNN, Drs. Anang Iskandar menampik pandangan ini. Dikatakannya, BNN bukan polisi atau organisasi, tapi lembaga untuk koordinasi.
"BNN tidak hanya koordinasi di Jakarta, tapi juga koordinasi dengan polda-polda. Selama ini BNN hanya merehabilitasi. Tidak pernah memerangi atau menumpas narkoba. Itu sebabnya angka penggunaan narkoba ini meningkat," tegas Karni Ilyas.
Di tengah derasnya kritikan terhadap peran BNN ini, empat pemateri masing- masing Karni Ilyas, Effendy Choirie, Utama Karjo, Anang Iskandar dan puluhan wartawan peserta sepakat agar perkembangan kasus narkoba ini memang segera dihentikan guna menyelamatkan generasi penerus bangsa ini. Meningkatkan komitmen dan peran media massa, baik cetak maupun elektronik, dinilai sebagai pola pendekatan pencegahan yang tepat dan strategis. Peningkatan komitmen ini dilakukan dengan cara melakukan sosialisasi secara terus menerus tanpa henti tentang bahaya narkoba.
Anang Iskandar mengakui, peran media massa ini sangat penting karena media massa merupakan pihak yang memiliki potensi dalam hal informasi, pengetahuan dan mampu mengarahkan pola pikir dan pandangan serta perubahan yang berkaitan dengan narkoba kepada masyarakat luas di seluruh pelosok Indonesia.
"Melalui forum yang strategis ini kami berharap dapat terbangun komitmen dan konsistensi serta social responsibility media massa terhadap masalah narkoba guna menyelamatkan anak-anak bangsa kita dari kehancuran akibat penyalahgunaan narkoba," harap Anang Iskandar.
Anang mengakui, komitmen media massa selama ini memang sudah ada. "Namun berita yang diangkat media massa hanya berita-berita penindakan saja, sementara berita pencegahan dan sosialisasi tentang bahaya narkoba itu sangat jarang," katanya.
Tapi, harapan akan komitmen media massa cetak dan elektronik dinilai belum cukup. Menurut Effendy Choirie, sosialisasi tentang bahaya penggunaan narkoba ini tidak hanya dilakukan media massa cetak dan elektronik, tapi juga perlu dilakukan dengan kelompok strategis lainnya atau media tradisional, seperti tokoh- tokoh agama dan lainnya. "Saya kira ini juga merupakan salah satu sarana efektif, karena media massa cetak dan elektronik itu sangat terbatas. Tidak semua orang berlangganan koran," katanya.
Tapi dalam konteks meningkatkan komitmen media massa ini, para peserta yang merupakan wakil dari media masa cetak dan elektronik ini, mengkritik pihak BNN selaku penyelenggara kegiatan ini. Beberapa peserta yang diberi kesempatan untuk berbicara, mengatakan, jika forum ini dijadikan momentum untuk membangun komitmen media massa dalam memberantas dan mensosialisasikan bahaya penggunaan narkoba, maka seharusnya yang diundang dalam forum ini tidak cukup dengan menghadirkan wartawannya, tetapi juga perlu menghadirkan pemimpin redaksinya. Sebab, berbicara tentang komitmen berkaitan erat dengan sikap dan kebijakan redaksi. "Tidak semua berita narkoba itu menarik. Di sisi lain, berita yang ditulis wartawan itu harus memperhitungkan aspek bisnisnya, artinya bisa membuat koran laku dan laris terjual. Karena itu, perlu ada kebijakan redaksi agar semua berita tentang narkoba itu bisa diakomodir," kata seorang wartawan.
Effendy Choirie sependapat dengan pandangan ini. Menurut Effendy, dalam rangka membangun komitmen memerangi narkoba, tidak cukup dengan mengundang wartawan untuk hadir dalam forum seperti itu, tapi juga perlu menghadirkan pemimpin redaksinya. Perangi narkoba itu harus menjadi visi dan kebijakan dari institusi pers itu sehingga ada ruang atau space untuk setiap berita yang berkaitan dengan sosialisasi bahaya penggunaan narkoba.
"Supaya ada kebijakan redaksi tentang masalah narkoba maka pemimpin redaksinya juga harus diundang untuk hadir dalam forum seperti ini. Kalau tidak, BNN perlu safari ke redaksinya. BNP dan BNK itu perlu dekati pemrednya agar masalah narkoba ini menjadi kebijakan redaksi," kata Effendy.
"Untuk membuat berita narkoba menjadi berita menarik, BNN juga perlu mengemas informasi yang berkaitan dengan masalah narkoba. Jadi mengemas informasi itu sama seperti mengemas produk," tambah Karni Ilyas.
Diskusi yang berlangsung selama lima jam itu menyimpulkan, kebijakan dan strategi pencegahan narkoba melalui pendekatan berbasis media massa perlu terus dilaksanakan dan dikembangkan. Kemitraan dengan media massa merupakan suatu keharusan. Tapi hal paling penting ialah perlu adanya komitmen semua pihak untuk memberantas narkoba sesuai peran masing-masing. Ini penting untuk menyelamatkan anak-anak bangsa kita dari kehancuran akibat penyalahgunaan narkoba. (habis)

Tidak ada komentar: